Timid Ninja !

It is during our darkest moments that we must focus to see the light.

TUGAS MATA KULIAH SOFTSKIL BAHASA INDONESIA
KALIMAT EFEKTIF






Oleh:
Ridwan Gunawan
27113638

3KB01


Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat ialah satuan bahasa yang terkecil, berwujud lisan atau tulisan yang memiliki sekurang-kurangnya subjek (S) dan predikat (P), tanpa S dan P, pernyataan itu bukan kalimat, melainkan frase. Sebuah kalimat terdiri dari isi yang berupa pikiran penulis, dan bentuk yaitu kata-kata yang mewakili pikiran penulis.



Kalimat efektif adalah sebuah kalimat yang dapat menimbulkan daya khayal pada pembaca, minimal mendekati apa yang dipikirkan oleh penulis. Kalimat efektif tidak hanya kalimat yang memenuhi syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada pembacanya. Ada lima hal yang harus diperhatikan dalam sebuah kalimat efektif, yaitu:


  • Kesatuan pikiran, yaitu sebuah pikiran pokok yang tdaik boleh diubah dari satu pikiran ke pikiran lain yang tidak mempunyai hubungan.
  • Kepaduan, yaitu hubungan timbal balik antar unsur yang membentuk kalimat (kata-kata) atau adanya interaksi antar kata yang menduduki fungsi pada kalimat.
  • Subyek dan Predikat, adalah struktur yang terdiri dari kata-kata yang secara bersama-sama dan memiliki fungsinya masing-masing dalam membentuk kalimat. Subjek merupakan unsur inti atau pokok pembicaraan. Sedangkan predikat adalah kata kerja.
  • Pengembangan Struktur Dasar Kalimat,dapat dikembangkan jika kita merasa belum cukup menjelaskan maksud dalam kalimat yang terdiri atas subjek dan predikat saja.
  • Kalimat Pasif dan Kalimat Aktif, seorang penulis diperbolehkan membuat sebuah laporan ilmiah dengan menggunakan kalimat pasif maupun kalimat aktif, tetapi ia harus dapat bertanggung jawab dengan apa yang diuraikannya.

  
Syarat Kalimat Efektif

Dalam membuat sebuah kalimat efektif, ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

a. Penekanan

  • Penekanan adalah upaya memberi tekanan pada kalimat dengan menonjolkan atau mementingkan pikiran pokok. Penekanan ada empat macam, yaitu:
  • Alih Bangun, adalah pemindahan unsur kalimat, biasanya kata yang berada di awal kalimat merupakan kata yang dipentingkan.
  • Pengulangan Kata, diperlukan untuk memberikan penekanan pada bagian ujaran yang dianggap penting.
  • Pertentangan, dapat digunakan untuk memberi tekanan pada pikiran dengan cara menggunakan kata yang tidak langsung pada pikiran utama.
  • Urutan Logis, yang berarti mengurutkan secara logis atau kronologis unsur-unsur kalimat yang mengandung urutan kejadian atau proses.

b. Kesejajaran

  • Kesejajaran ialah penempatan gagasan yang sama penting ke dalam struktur kebahasaan yang sama. Kesejajaran memiliki tiga macam, yaitu:
  • Kesejajaran Bentuk, yaitu apabila sebuah gagasan berada dalam kata benda, maka ada kata lain juga yang berfungsi sama pada kata benda.
  • Kesejajaran Makna, kesejajaran makna timbul oleh adanya relasi makna antar satuan dalam kalimat.
  • Kesejajaran Rincian, yaitu kesejajaran antara sebah kalimat dengan rincian yang dikandungnya.

c. Kehematan

  •  Kehematan berarti penghematan kata, frase, atau struktur lain yang dianggap tidak perlu dalam kalimat. Kehematan dapat dilakukan dengan cara:
  • Penghematan Subjek, dilakukan dengan cara menghapus pengulangan subjek yang tidak membuat kalimat semakin jelas.
  • Penghilangan Hiponimi, dilakukan dengan cara menghapus makna kata yang lebih tinggi.
  • Penghilangan Kata Depan dari dan daripada, karena kedua kata ini banyak digunakan secara tidak tepat.
  • Penyingkatan Kata, dilakukan dengan menggantikan kata atau istilah yang panjang menjadi lebih pendek.
  • Penyingkatan Ungkapan.
  • Penyingkapan Kalimat, karena akan menyulitkan pembaca dalam memahami maknanya.

d. Keterbacaan

  • Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca oleh orang lain, maka ia harus membuat tulisan yang mudah untuk dipahami maksudnya. Semakin tinggi keterbacaan akan membuat tulisan itu semakin mudah untuk dipahami. Berikut ini adalh hal-hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan keterbacaan:
  • Kejelasan, tulisan akan lebih mudah dipahami jika menggunakan kata-kata yang sudah umum atau dikenal.
  • Bangun Kalimat, yaitu penyusunan kata yang digunakan agar dapat memberikan nilai tambah bagi kejelasan kalimat.


e. Pengaruh Bahasa Inggris

  • Struktur Bahasa Inggris sering mempengaruhi struktur Bahasa Indonesia karena Bahasa Inggris dekat dengan pemakaian Bahasa Indonesia. (Eyang Ageng Sastranegara)


Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam berbahasa maupun tulisan

            Dalam kenyataan berbahasa Indonesia sehari-hari, baik lisan maupun tulis, masih banyak ditemukan kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini sering tidak disadari. Seolah-olah kesalahan itu sudah berteima (salah kaprah). Secara umum, kesalahan struktur, kesalahan diksi, dan kesalahan ejaan. Berikut akan disampaikan contoh-contoh kesalahan tersebut satu per satu beserta alternative pembenarannya.

1. Kesalahan struktur 

Kalimat pasif bentuk diri 
Dalam karangan ini tidak terdapat kalimat yang salah dalam susunan pasif bentuk diri.

Subjek berpreposisi
Kalimat tidak bersubjek sering kita temukan dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Karena asyik menulis, kadang-kadang orang lupa memeriksa apakah kalimat yang dihasilkannya memenuhi syarat atau tidak. Orang sering menempatkan preposisi atau kata depan di depan subjek. Penempatan preposisi di depan subjek mengakibatkan kaburnya fungsi subjek yang dimaksud menjadi keterangan. Kalimat-kalimat berikut memperjelas hal itu. Tetapi dalam karangan-karangan ini tidak ditemukan kalimat yang salah dalam penggunaan subjek berpreposisi.

Pengantar kalimat dan predikat
Ungkapan pengantar kalimat seperti menurut dan sebagaimana, yang disertai nomina pelaku sering menimbulkan ketaksaan antara ungkapan pengantar kalimat dan predikat kalimat. Tetapi dalam karangan-karangan ini tidak ditemukan kesalahan yang diakibatkan pengantar kalimat dan predikat.

Pelesapan subjek dalam kalimat majemuk 
Kalimat majemuk sebenarnya terbentuk dari penggabungan kalimat-kalimat tunggal. Dalam penggabungan itu sering terjadi penggantian, pelesapan, dan pengulangan unsur yang sama. Dalam karangan-karangan ini tidak terdapat kalimat yang salah dalam hal pelesapan subjek dalam kalimat majemuk

Penggunaan dua konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat 
Kalimat majemuk bertingkat adalah suatu jenis kalimat majemuk yang unsure-unsurnya memiliki kedudukan yang tidak sederajat. Bagian yang satu berkedudukan sebagai inti dan bagian yang lain berkedudukan sebagai bukan inti (induk kalimat dan anak kalimat). Kita sering menemukan pemakaian dua konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat. Dalam karangan-karangan ini tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan dua konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat.

Predikat berpreposisi 
Predikat merupakan unsure utama suatu kalimat di samping subjek. Dalam kenyataan berbahasa orang sering membangun kalimat-kalimat yang tidak berpredikat. Kesalahan ini sering tidak disadari. Sebenarnya, predikat kalimat itu ada, tetapi gagal menjadi predikat karena didahului preposisi. Dalam karangan-karangan ini tidak terdapat kesalahan dalam hal predikat berpreposisi. 


2. Kesalahan diksi
Penggunaan diksi secara tidak tepat sering menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal (salah). Untuk itu, diperlukan kecermatan dalam memilih sehingga kalimat yang dihasilkan memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik. Berikut dikemukakan beberapa kesalahan yang sering kita temukan dalam kenyataan berbahasa sehari-hari.

a. Pemakaian kata depan yang tidak tepat 
Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata seperti ­di, ke, dari, pada, terhadap, tentang dan daripada. Kata-kata seperti itu tidak dapat berdiri sendiri sebagai subjek dan predikat serta fungsi-fungsi klausa yang lain. Dalam penggunaan bahasa sering tidak cermat memperlakukan kata-kata tersebut.
contoh:
- Pulo tersebut yang letaknya di tengah laut, yang di bagi menjadi dua pulo, yaitu Pulo Breuh dan Pulo Nasi.
- Pikiran ini kian kalut saat aku memikirkan ke tiga adikku yang masih kecil-kecil.

Kata di dan ke pada kalimat di atas salah karena tidak sesuai dengan kaidah penulisan yang baik. Jadi seharusnya pemakaian di dan ke seharusnya disambung seperti dalam kalimat berikut ini.

- pulo tersebut yang letaknya di tengah laut, yang dibagi menjadi dua pulo, yaitu pulo Breuh dan Pulo Nasi.
- pikiran ini kian kalut saat aku memikirkan ketiga adikku yang masih kecil-kecil.

b. Penggunaan kata berpasangan yang tidak tepat
Ada sejumlah kata dalam bahasa Indonesia yang digunakan secara berpasangan (konjungsi korelatif), seperti baik…maupun…, bukan… melainkan…, tidak… tetapi…,antara…dan… Di dalam kalimat-kalimat berikut dikemukakan contoh pemakaian konjungsi korelatif secara tidak tepat.
- Pulo Breuh adalah pulo ku yang mempunyai banyak desa di bandingkan dengan Pulo Nasi.

Kalimat di atas sebenarnya mempunyai dua kesalahan yaitu pemakain kata depan dan penggunaan kata berpasangan yangseharusnya disisipkan kata lebih yang dipasangkan dengan kata dibandingkan seperti kalimat diberikut.
-  Pulo Breuh adalah pulo ku yang mempunyai banyak desa dibandingkan dengan Pulo Nasi.

c. Penggunaan makna jamak secara berganda 
Di dalam kenyataan sering kita temukan penggunaan kata-kata yang mubazir, tetapi dalam karangan-karangan ini tidak terdapat kesalahan seperti itu.

d. Penggunaan kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara berganda 
Kita sering menemukan penggunaan dua kata yang makna dan fungsinya kurang lebih sama. Pengunaan dua kata secara bersamaan ini tidak efisien. Kata-kata yang dimaksud, seperti adalah merupakan, agar supaya, demi untuk, seperti misalnya, sangat sekali, hanya saja, dan daftar nama-nama. Seperti kalimat berikut:
- Dan diakhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka ada diadakan acara-acara yang seru lho!!

Kata-kata yang bercetak miring sudah menyatakan jamak. Jadi tidak perlu dipergunakan secara bersamaan. Gunakan saja salah satunya , seperti contoh berikut.
- Dan di akhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka diadakan acara-acara yang seru lho!!

e. Penggunaan penghubung antarkalimat dan maka 
Dalam berbagai tulisan kita menemukan penggunaan kata maka bersama dengan ungkapan penghubung antarkalimat, seperti sehubungan dengan itu maka, dan setelah itu maka, dalam karangan-karangan ini tidak terjadi kesalahan seperti itu.

f. Penggunaan makna kesalingan secara berganda 
Kesalahan seperti ini tidak terjadi pada karangan-karangan ini

g. Peniadaan preposisi
Dalam kenyataan berbahasa kita juga sering menemukan peniadaan unsur preposisi yang menyertai verba. Verba yang disertai preposisi itu umumnya berupa verba intransitive. Kesalahan seperti tidak kita jumpai dalam karangan-karangan ini.

h. Pemakaian bentuk di mana, dalam mana, dan yang mana sebagai penghubung 
Dalam bahasa Indonesia sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, dan yang mana sebagai penghubung. Penggunaan bentuk-bentuk tersebut dipengaruhi oleh struktur bahasa inggris. Dalam bahasa inggris, bentuk tersebut seperti where, in, which (di mana, dalam mana, dan yang mana) lazim digunakan sebagai penghubung.
contoh:
- Di antara desa-desa yang ada di pulo Breuh terdapat satu desa yaitu desa ku desa lampu yang, di mana di desa ku banyak terdapat rumah penduduk.

Dalam bahasa Indonesia kata-kata tersebut dapat dihilangkan karena tidak perlu digunakan, seperti contoh berikut.
- Di antara desa-desa yang ada di pulo Breuh terdapat satu desaku desa lampuyang, di desaku banyak terdat rumah penduduk.

i. Penghilangan afiks 
Dalam kenyataan bahasa Indonesia dewasa ini, baik dalam situasi resmi maupun tidak resmi, para penutur bahasa Indonesia sering menghilangkan afiks. Afiks yang sering dihilangkan adalah meN- dan ber-. Tetapi dalam karangan-karangan ini tidak terjadi kesalahan seperti ini.

j. Penghilangan konjungsi 
Konjungsi digunakan untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Dengan perkataan lain, anak kalimat ditandai oleh adanya konjungsi, sedangkan induk kalimat tidak didahului konjungsi. Dalam kenyataan sering ditemukan kalimat sebagai berikut:

a. Karena kejadian hari itu Aisyah hidup sebatang kara, ia mulai membiasakan hidup sendiri tanpa bantuan orang tuanya.

b. Karena waktu itu terpakai untuk melakukan kegiatan dan di akhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka dan di akhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka.

Jika kita perbaiki kalimat-kalimat itu menjadi.

c. Ia mulai membiasakan hidup sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Karena kejadian hari itu Aisyah hidup sebatang kara.

d. Waktu itu terpakai untuk melakukan kegiatan dan di akhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka dan di akhir kegiatan pramuka dan penutupan pramuka.


1. Pemisahan bagian kalimat majemuk
Kalimat majemuk terdiri atas dua pola atau lebih. Pola atau bagian-bagian dalam kalimat tidak dipenggal atau dipisahkan, dalam karangan-karangan ini tidak terdapat kesalahan seperti ini.

2. Kesalahan ejaan
Dalam kenyataan penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini masih banyak kesalahan yang disebabkan oleh ketidaktepatan menerapkan ejaan. kesalahan yang sering terjadi adalah pembubuhan tanda baca, khususnya pembubuhan tand koma (,). Berikut akan ditampilkan contoh-contoh kesalahan tersebut.

a. Tanda koma di antara subjek dan predikat
contoh:
Pulo tersebut yang letaknya di tengah laut, yang di bagi menjadi dua pulo, yaitu pulo Breuh dan pulo Nasi. 

Kalimat di atas salah karena tanda titik di antara subjek dan predikat. Ada kecenderungan penulis membubuhkan tanda koma di antara subjek dan predikat kalimat jika nomina mempunyai keterangan yang panjang. Pembubuhan tanda koma dari predikat. Jadi, tanda koma dalam kalimat di atas harus ditiadakan. Akan tetapi, tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.

b. Tanda koma di antara keterangan dan subjek
Selain subjek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subjek kalimat. Padahal, meskipun panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu, pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar.
perhatikan contoh kalimat berikut.
- Setelah aku mengambil wudu’ dan melaksanakan shalat shubuh, kedua kaki ini menuntunku untuk keluar rumah

c. Tanda titik dua di akhir kalimat
Salah satu tempat penggunaan tanda titik dua (:) adalah pada akhir suatu penyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Dalam karangan-karangan ini tidak ditemukan kesalahan seperti yang dimaksud. 


referensi:
www.google.com
http://bagussatriyo11.blogspot.co.id/2014/11/tugas-6.html
http://criz-scania.blogspot.co.id/2010/12/kalimat-efektif.html

0 komentar:

Posting Komentar

Student Site

BAAK Gunadarma

Berita Student Site

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.